• SMP NEGERI 1 KRESEK
  • Etika Kekeluargaan Prestasi Islami

CINTA DAN SAHABAT SEJATI SELAMANYA - KARYA: SALSA PINASIH

Bab 1: Mimpi di Balik Layar Drama

 

Angin sore bertiup pelan di kamar kecil yang dipenuhi poster drama Korea. Aira Tsabit duduk bersila di kasur, mata terpaku pada layar laptop yang menampilkan episode terakhir Moon Lovers: Scarlet Heart Ryeo. Air mata menggenang di pelupuk matanya, tapi ia tersenyum—seperti biasa.

 

"Kenapa sih kamu selalu nonton drama sedih-sedih begini?" tanya Anggina sambil masuk ke kamar dengan membawa dua gelas teh hangat.

 

"Karena mereka selalu punya akhir yang indah." jawab Aira sambil menutup laptop. "Walaupun harus melalui penderitaan dulu."

 

Anggina duduk di sebelahnya, menatap sahabatnya dengan penuh kasih sayang. Sudah tiga bulan sejak Aira kabur dari rumah orang tua angkatnya dan tinggal bersamanya. Gadis berusia 17 tahun itu tidak pernah menceritakan detail masa lalunya. Tapi Anggina tahu bahwa di balik senyuman Aira, tersimpan luka yang dalam.

 

"Besok kita masuk sekolah lagi." kata Anggina. "Katanya ada murid baru di kelas kita."

 

Mata Aira langsung berbinar, "Murid baru? Cowok atau cewek?"

 

"Cowok. Namanya Biru Satya Purnama."

 

"Biru..." Aira mengulang nama itu dengan nada dreamy. "Seperti nama tokoh utama di drama Korea!"

 

Anggina tertawa, "Jangan mulai lagi dengan khayalan drama Korea-mu, Aira!"

 

Tapi Aira sudah terbang dalam imajinasinya. Ia membayangkan pertemuan pertama mereka akan seperti dalam drama—mungkin mereka akan bertabrakan di koridor, atau mungkin Biru akan meminjamkan payung saat hujan. Ia sudah merencanakan skenario romantis yang sempurna.

 

Malam itu, Aira menuliskan puisi di buku hariannya:

 

"Seperti angin yang membawa harapan baru,

Namamu terukir di langit biru.

Mungkinkah takdir membawa kita bersatu,

Dalam cerita cinta yang tak pernah layu?"

 

*** 

 

 Bab 2: Pertemuan yang Tidak Seperti Drama

 

Hari Senin pagi, Aira bangun lebih awal dari biasanya. Ia menghabiskan waktu lama di depan cermin, memastikan setiap helai rambutnya tertata rapi. Ia bahkan memilih seragam yang paling bagus dan mengenakan sedikit lip balm—sesuatu yang jarang ia lakukan.

 

"Kamu kenapa sih, kayak mau ke kondangan." ledek Anggina.

 

"Aku cuma mau terlihat... normal." jawab Aira sambil memeriksa penampilannya sekali lagi.

 

Sesampainya di sekolah, Aira dan Anggina langsung menuju kelas XI-A. Dari kejauhan, mereka melihat kerumunan teman-teman yang sedang mengobrol dengan seseorang yang memunggungi mereka.

 

"Itu dia kayaknya." bisik Anggina.

 

Jantung Aira berdegup kencang. Ia sudah menyiapkan skenario perkenalan yang sempurna. Mungkin ia akan memperkenalkan diri dengan anggun, atau mungkin mereka akan saling bertukar senyum yang manis. Tapi ketika orang itu berbalik, Aira hampir tersedak ludahnya sendiri.

 

Biru Satya Purnama memang tampan, tapi ia sedang mengunyah sesuatu dengan mulut terbuka, dan ada remah-remah roti yang menempel di ujung bibirnya. Lebih parahnya lagi, ketika melihat Aira, ia malah tersenyum lebar sambil melambaikan tangan—dengan mulut yang masih penuh makanan.

 

"Hai! Kamu Aira kan? Aku Biru!" katanya dengan antusias, tanpa menyadari bahwa ia menyemprotkan remah roti ke arah Aira.

 

Aira terdiam. Ini sama sekali tidak seperti drama Korea yang ia bayangkan.

 

"Eh, kamu kenapa? Kok diem?" tanya Biru sambil menelan makanannya.

 

"Tidak... tidak apa-apa." jawab Aira sambil tersenyum, meskipun dalam hati ia berteriak karena skenario drama romantisnya hancur sudah.

 

Anggina menahan tawa melihat ekspresi Aira yang kebingungan.

 

*** 

 

Bab 3: Operasi Coklat yang Gagal Total

 

Seminggu setelah pertemuan pertama yang tidak sesuai ekspektasi, Aira memutuskan untuk tidak menyerah. Ia terinspirasi oleh drama "Chocolate" di mana tokoh utamanya memberikan coklat kepada pria yang disukainya.

 

"Anggina, aku mau beli coklat buat Biru." kata Aira sambil mengeluarkan uang sakunya.

 

"Yakin? Kemarin aja kamu bilang dia makan kayak orang kelaparan." jawab Anggina skeptis.

 

"Tapi kan itu imut juga, seperti tokoh utama di drama yang polos dan natural!"

 

Anggina menggeleng-geleng kepala. Sahabatnya ini memang ahli dalam mencari justifikasi romantis untuk hal-hal yang sebetulnya biasa saja.

 

Aira membeli coklat mahal di toko dekat sekolah. Ia bahkan meminta dibungkus dengan pita merah muda yang cantik. Sepanjang hari, ia menyimpan coklat itu di dalam tas sambil membayangkan reaksi Biru ketika menerimanya.

 

Saat jam istirahat, Aira memberanikan diri mendekati Biru yang sedang duduk di bangkunya sambil memegang pipinya.

 

"Biru, aku... aku punya sesuatu buat kamu." kata Aira dengan gugup sambil mengeluarkan coklat dari tasnya.

 

Biru mendongak dengan wajah yang meringis kesakitan.

 

"Aduh, maaf Aira. Aku lagi sakit gigi nih. Dokter bilang jangan makan yang manis-manis dulu."

 

Aira terdiam dengan coklat di tangannya. Skenario drama romantisnya hancur lagi. Tiba-tiba, Zehan—teman sebangku Biru—muncul dari belakang.

 

"Wah, coklat! Boleh aku yang makan, Aira? Kasihan kan kalau dibuang."

 

Sebelum Aira bisa menjawab, Zehan sudah merebut coklat itu dan langsung memakannya dengan lahap.

 

"Wah, enak banget! Makasih ya, Aira!" kata Zehan sambil tersenyum manis.

 

Aira hanya bisa memandang dengan mulut menganga. Coklat yang ia beli dengan susah payah untuk Biru malah dimakan oleh Zehan. Yang lebih parah, Zehan terlihat sangat senang, seolah-olah coklat itu memang khusus untuknya.

 

"Kamu baik banget, Aira. Jarang-jarang ada yang kasih aku coklat." lanjut Zehan sambil menghabiskan coklat terakhir.

 

Biru yang masih menahan sakit gigi hanya bisa tertawa kecil.

"Hehe, maaf ya Aira. Lain kali aja kalau sakitnya udah sembuh."

 

Aira tersenyum pahit. "Iya... gak apa-apa." Ketika Aira kembali ke tempat duduknya, Anggina sudah menunggu dengan wajah penuh tanda tanya.

 

"Gimana? Berhasil?" tanya Anggina.

 

"Berhasil... tapi yang makan Zehan." jawab Aira dengan nada datar.

 

Anggina hampir tersedak air minumnya.

 

"Hah? Kok bisa?"

 

"Biru lagi sakit gigi. Terus Zehan langsung sambar coklat aku. Sekarang dia mikir kalau aku kasih coklat khusus buat dia."

 

"Aduh, Aira..." Anggina menggeleng-geleng kepala sambil menahan tawa.

 

*** 

 

Bab 4: Surat Cinta yang Salah Alamat

 

Tidak patah semangat dengan kegagalan operasi coklat, Aira memutuskan untuk mencoba pendekatan yang lebih klasik—menulis surat cinta. Ia terinspirasi oleh drama "Waiting For Rain" yang menampilkan kisah cinta melalui surat-menyurat.

 

Aira menghabiskan seluruh malam untuk menulis surat yang sempurna. Ia menulisnya di kertas berwarna soft pink dengan tinta biru, dan menyemprotkan sedikit parfum di atasnya—persis seperti yang ia lihat di drama:

 

Untuk Biru yang terhormat,

 

Mungkin ini terdengar aneh, tapi aku merasa ada keajaiban kecil setiap kali melihatmu tersenyum. Seperti matahari yang terbit di pagi hari, senyummu selalu membuat hariku lebih cerah.

 Aku tahu kita baru kenal sebentar, tapi entah kenapa rasanya seperti sudah lama mengenalmu. Mungkin ini yang disebut takdir?

 Aku ingin lebih mengenalmu, ingin berbagi cerita, ingin...

 Dengan perasaan yang tulus,

 

~Aira

 

Keesokan harinya, Aira membawa surat itu ke sekolah dengan hati-hati. Ia memasukkannya ke dalam amplop putih dan menuliskan nama "Biru Satya Purnama" dengan tulisan tangan yang rapi. Rencananya, ia akan memasukkan surat itu ke dalam laci meja Biru secara diam-diam saat jam istirahat. Ia sudah mengamati kebiasaan Biru yang selalu pergi ke kantin saat jam istirahat dimulai.

 

Ketika bel istirahat berbunyi, Aira pura-pura sibuk dengan bukunya sampai kelas sepi. Setelah memastikan tidak ada yang melihat, ia berdiri dan berjalan pelan ke arah meja Biru.

 

Jantungnya berdegup kencang. Ini adalah momen yang menentukan. Ia membayangkan Biru akan membaca suratnya dengan senyuman manis, kemudian mencarinya untuk mengungkapkan perasaan yang sama. Dengan tangan gemetar, Aira mengeluarkan surat dari tasnya. Tapi tiba-tiba, angin dari jendela yang terbuka bertiup kencang. Surat itu terbang dari tangannya!

 

"Tidak!" teriak Aira sambil mencoba menangkap surat yang beterbangan.

 

Surat itu melayang-layang di udara, kemudian jatuh tepat di atas meja Bimbim—si tukang makan kelas yang sedang sibuk menghabiskan bekal istirahatnya.

 

"Lho, ini surat apa?" tanya Bimbim sambil mengambil surat itu.

 

"Jangan dibaca!" teriak Aira panik sambil berlari ke arah Bimbim.

 

Tapi sudah terlambat. Bimbim sudah membuka amplop dan membaca nama yang tertulis di surat itu.

 

"Biru Satya Purnama... eh, ini nama samaran ya?" tanya Bimbim sambil menatap Aira dengan mata berbinar.

 

"Nama samaran buat aku kan? Soalnya aku kan suka biru, dan Purnama itu artinya bulan purnama, seperti wajahku yang bulat!"

 

Aira ingin protes, tapi Bimbim sudah melanjutkan membaca surat itu dengan suara keras.

 

"Wah, Aira! Kamu romantis banget! 'Seperti matahari yang terbit di pagi hari, senyummu selalu membuat hariku lebih cerah.' Aku juga merasa gitu sama kamu!"

 

Teman-teman yang mulai berdatangan dari kantin langsung berkumpul mendengar keributan itu.

 

"Wah, Aira nulis surat cinta buat Bimbim!" teriak salah satu teman.

 

"Cie, Aira sama Bimbim!" sahut yang lain.

 

Aira ingin menjelaskan, tapi suaranya seperti hilang. Ia hanya bisa berdiri di sana dengan wajah merah padam sementara teman-temannya mulai menggoda mereka. Yang lebih parah, Biru juga sudah kembali dari kantin dan melihat keributan itu. Ia terlihat bingung tapi kemudian tersenyum dan ikut bertepuk tangan.

 

"Wah, selamat ya Aira, Bimbim!" kata Biru dengan polos.

 

Aira rasanya ingin menghilang saat itu juga. Rencana romantisnya benar-benar hancur, dan sekarang seluruh kelas mengira ia pacaran dengan Bimbim.

 

"Aira, jangan malu-malu. Aku juga suka sama kamu kok." kata Bimbim sambil tersenyum lebar, tidak menyadari bahwa surat itu sebenarnya bukan untuknya.

 

Anggina yang baru saja masuk kelas langsung mengerti situasinya. Ia segera mendekati Aira dan menarik tangannya.

 

"Aira, kita ke toilet dulu ya." kata Anggina sambil mengedipkan mata ke arah teman-teman yang masih menggoda.

 

Di toilet, Aira langsung menangis—untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama.

 

"Kenapa sih aku selalu gagal? Kayak tokoh utama drama yang sial banget." kata Aira sambil terisak.

 

Anggina memeluk sahabatnya.

"Aira, mungkin ini saatnya kamu berhenti mencoba jadi seperti tokoh drama. Kamu itu istimewa dengan caramu sendiri."

 

"Tapi gimana dong? Sekarang semua orang mikir aku pacaran sama Bimbim. Padahal aku sukanya sama Biru."

 

"Kita jelasin pelan-pelan nanti. Yang penting sekarang kamu harus siap menghadapi situasi ini."

 

Aira menarik napas panjang. Ia tidak pernah menyangka bahwa mencoba menjadi seperti tokoh drama justru membuatnya terjebak dalam situasi yang lebih rumit dari drama itu sendiri.

 

 *** 

  

Bab 5: Drama Cinta Segitiga yang Kacau

 

Setelah kejadian surat cinta yang salah alamat, hidup Aira di sekolah berubah drastis. Bimbim yang mengira dirinya adalah "Biru Satya Purnama" dalam surat itu mulai menunjukkan perhatian berlebihan.

 

"Aira, aku bawain kamu nasi uduk kesukaanku!" kata Bimbim sambil meletakkan bungkusan besar di meja Aira.

 

"Makasih, Bimbim. Tapi aku udah bawa bekal." jawab Aira sambil tersenyum paksa.

 

"Gak apa-apa, yang penting kamu makan yang enak. Kata mamaku, kalau mau ngedapetin hati cewek, harus lewat perut!"

 

Anggina yang duduk di sebelah Aira hampir tersedak mendengar kalimat terakhir Bimbim. Sementara Aira hanya bisa menatap horor ke arah nasi uduk yang ukurannya bisa untuk makan sekeluarga.

 

"Eh, Bimbim, ini kebanyakan deh." kata Aira.

 

"Emang sengaja! Kamu kan kurus, harus makan yang banyak biar kayak aku." jawab Bimbim sambil menepuk-nepuk perutnya yang buncit dengan bangga.

 

Di sudut kelas, Zehan yang sedang makan roti coklat memperhatikan pemandangan itu dengan cemberut.

 

"Kenapa sih Bimbim jadi rajin banget ngasih makan Aira?" tanya Zehan kepada Biru yang sedang kumur-kumur obat sakit gigi.

 

"Emang kenapa? Kamu cemburu ya?" jawab Biru dengan suara yang aneh karena mulutnya masih penuh obat kumur.

 

"Enggak lah! Cuma... kan kasihan Aira dijejali makanan terus. Nanti dia obesitas."

 

"Atau jangan-jangan kamu yang suka sama Aira?" tanya Biru sambil berkumur lagi.

 

Zehan hampir tersedak rotinya.

 

"Hah? Ngomong apa sih lo!"

 

"Soalnya kemarin kamu seneng banget pas makan coklat dari Aira. Terus sekarang kamu perhatiin dia terus."

 

"Itu kan... itu kan..." Zehan bingung mau jawab apa.

 

Tiba-tiba, Biru berhenti berkumur dan menatap Zehan dengan mata berbinar.

 

"Wah, jadi kita sama-sama suka sama Aira dong!"

"HAH?!" Zehan teriak kencang sampai seluruh kelas menoleh.

 

"Kamu bilang apa tadi?" tanya Aira yang sudah panik mendengar namanya disebut.

 

"Biru bilang dia suka sama kamu!" seru Zehan tanpa sadar.

 

"APA?!" teriak Aira sambil berdiri dari bangkunya.

 

"Eh, bukan! Maksudku..." Biru panik sambil berkumur-kumur lagi.

 

"Zehan bilang dia juga suka sama kamu!" tambah Biru tanpa mikir.

 

"HAH?" kali ini Aira, Zehan, dan Bimbim berteriak bersamaan.

 

"Tunggu-tunggu!" teriak Bimbim sambil berdiri dramatis. "Kalau kalian semua suka sama Aira, berarti aku punya saingan dong!"

 

"Saingan apaan sih, Bim?" tanya Aira yang semakin bingung.

 

"Ya saingan buat dapetin hati kamu! Kan kamu udah nulis surat cinta buat aku!"

 

"Surat cinta apa?" tanya Zehan dan Biru bersamaan.

 

"Kemarin Aira nulis surat cinta buat aku pake nama samaran 'Biru Satya Purnama'. Romantis banget kan?"

 

Biru yang sedang minum air langsung menyemprotkan airnya ke wajah Zehan.

 

"ITU NAMA ASLI GUA, TOLOL!"

 

"Hah? Beneran?" Bimbim menatap Biru dengan tidak percaya.

 

"Iya lah! Gua Biru Satya Purnama yang asli!"

 

"Jadi... surat cinta Aira itu buat kamu?" tanya Bimbim dengan nada kecewa.

 

"Surat cinta apa sih sebenernya?" tanya Biru yang masih bingung.

 

Aira yang mendengar percakapan membingungkan ini langsung merasakan dunia berputar. Ia ingin menjelaskan, tapi suaranya hilang. Tanpa sadar, ia mengambil tas dan langsung lari keluar kelas.

 

"AIRA!" teriak Anggina sambil mengejar sahabatnya.

  

Di koridor, Aira berlari sambil menangis. Ini benar-benar bukan seperti drama Korea yang ia bayangkan. Dalam drama, konflik cinta segitiga itu romantis dan dramatis. Tapi ini? Ini chaos total!

 

"Aira, tunggu!" Anggina berhasil mengejar dan menarik tangan Aira.

 

"Anggina, aku mau pulang. Hidup gua udah kayak sitkom kelas B." kata Aira sambil menangis.

 

"Aira, tenang dulu. Kita jelasin pelan-pelan nanti."

 

"Jelasin gimana? Sekarang Bimbim mikir gua pacaran sama dia, Biru mikir gua nulis surat cinta buat dia, Zehan entah kenapa ikut-ikutan ribut, dan gua? Gua cuma pengen hidup sederhana kayak tokoh drama Korea!"

 

"Tapi kan hidup kamu sekarang lebih seru dari drama Korea." kata Anggina sambil tersenyum.

 

"Seru gimana? Ini mah lebih kayak komedi slapstick!"

 

Tiba-tiba, terdengar suara langkah kaki berlari dari arah kelas. Biru, Zehan, dan Bimbim muncul dengan wajah panik.

 

"Aira! Kamu gak apa-apa?" tanya Biru sambil terengah-engah.

 

"Aira, maaf ya aku bikin kamu bingung." kata Zehan dengan wajah bersalah.

 

"Aira, mau gimana pun juga, kamu tetep pacar gua kan?" tanya Bimbim dengan polos.

 

"BIMBIM!" teriak Aira, Biru, dan Zehan bersamaan.

 

"Apa sih? Gua kan cuma nanya." jawab Bimbim dengan innocent.

 

Anggina yang melihat situasi ini langsung mengambil alih.

 

"Oke, stop! Kalian semua duduk di sini, sekarang!"

 

Keempat orang itu langsung duduk di lantai koridor seperti anak TK yang sedang dihukum.

 

"Sekarang, Aira akan jelasin semuanya. Tapi kalian harus dengar baik-baik dan jangan menyela, oke?"

 

Mereka mengangguk seperti anak kecil. Aira menarik napas panjang.

 

"Jadi gini... kemarin aku memang nulis surat cinta. Tapi itu buat Biru yang asli, bukan buat Bimbim. Terus pas mau masukkin ke laci meja Biru, eh malah terbang ke meja Bimbim. Jadi sebenernya..."

 

"Jadi sebenernya kamu suka sama gua?" tanya Biru dengan mata berbinar.

"Iya." jawab Aira sambil menunduk malu.

 

"Tapi kan kemarin kamu kasih gua coklat." protes Zehan.

 

"Itu kan karena Biru lagi sakit gigi, jadi kamu yang makan." jawab Aira.

 

"Ohhh..." Zehan mengangguk-angguk paham.

 

"Jadi gua bukan pacar kamu?" tanya Bimbim dengan wajah sedih.

 

"Bukan, Bim. Maaf ya udah bikin kamu salah paham."

 

"Yah, padahal udah seneng banget. Tapi gak apa-apa sih, kita masih bisa jadi temen kan?" kata Bimbim dengan senyum tulus.

 

"Tentu saja!" jawab Aira sambil tersenyum.

 

"Nah, sekarang udah clear kan?" tanya Anggina.

 

"Clear sih, tapi..." Biru menggaruk-garuk kepala. "Sebenernya gua juga suka sama Aira dari pertama kali ketemu."

 

"HAH?" kali ini semua orang yang teriak.

 

"Tapi gua pikir Aira orangnya serius banget, jadi gua gak berani deketin. Makanya gua selalu acting kayak orang tolol biar dia gak tegang kalau lagi ngobrol sama gua."

 

"Jadi... selama ini kamu pura-pura jadi orang tolol?" tanya Aira dengan tidak percaya.

 

"Iya. Sebenernya gua bisa makan dengan sopan, tapi gua takut kalau gua keliatan terlalu perfect, kamu malah jadi nervous."

 

Aira menatap Biru dengan mulut menganga.

 

"Jadi... kamu sebenernya normal?"

 

"Normal dong! Gua kan ranking 3 di kelas sebelumnya." jawab Biru sambil tersenyum.

 

"WHAT?!" teriak Aira.

 

"Tapi sekarang gimana dong?" tanya Zehan. "Gua juga mulai suka sama Aira setelah kejadian coklat kemarin."

 

"Wah, jadi bener-bener cinta segitiga nih." kata Bimbim sambil makan kerupuk entah dari mana.

 

"Bimbim, ini situasi serius!" tegur Anggina.

 

"Gua tau, makanya gua makan sambil nonton. Kayak nonton drama di TV." jawab Bimbim dengan polos.

 

Mereka semua menatap Bimbim dengan ekspresi datar.

 

"Oke, jadi sekarang kita punya masalah cinta segitiga beneran." kata Anggina. "Aira suka sama Biru, Biru suka sama Aira, tapi Zehan juga suka sama Aira."

 

"Gampang." kata Biru. "Kita suit aja."

 

"SUIT?" teriak Aira. "Ini bukan buat rebutan makanan!"

 

"Terus gimana dong?" tanya Zehan.

 

"Kalian biarkan Aira yang pilih." kata Anggina bijak.

 

"Tapi aku bingung." kata Aira. "Ini terlalu mendadak."

 

"Yaudah, kita dating aja dulu. Kayak di drama Korea kan biasanya gitu." usul Biru.

 

"Dating gimana?" tanya Aira.

 

"Ya kita jalan bertiga. Terus kamu lihat chemistry kamu sama siapa yang paling cocok." jawab Biru.

 

"Ide bagus juga." kata Zehan.

 

"Boleh gua ikut gak?" tanya Bimbim.

 

"ENGGAK!" teriak semua orang bersamaan.

 

"Yah, padahal gua mau jadi komentator." kata Bimbim sambil mengunyah kerupuk.

 

Dan begitulah, tanpa Aira sadari, hidupnya yang tadinya ingin sederhana seperti tokoh drama Korea malah berubah menjadi sitkom yang lebih kacau dari drama yang pernah ia tonton.

 

*** 

  

Bab 6: Kencan Bertiga Paling Kacau di Semesta

 

Hari Minggu pagi, langit cerah dan burung-burung berkicau seperti dalam pembuka drama Korea yang menyambut episode baru. Tapi alih-alih pasangan manis berjalan sambil senyum-senyum malu, yang terlihat adalah tiga manusia penuh energi absurd sedang berdiri canggung di depan gerbang SMA Abadi 21 Harapan Bangsa.

 

“Kenapa kita ketemuan di depan sekolah?” tanya Zehan sambil mengangkat alis. “Ini kencan atau ujian nasional?”

 

“Katanya Aira suka hal-hal dramatis, jadi aku pikir latar belakang sekolah bisa kayak... flashback gitu.” jawab Biru sambil menatap langit ala oppa Korea yang mendalami naskah.

 

Aira, yang berdiri di antara mereka, hanya bisa menghela napas panjang. Ia mengenakan kaus biru muda dengan rok mini putih, lengkap dengan bando bunga ala tokoh cewek K-drama, sementara dua cowok di sebelahnya... memakai jaket couple.

Iya. Jaket couple. Bedanya, satunya warna merah (Zehan), satu lagi biru (Biru), dan di belakang jaket masing-masing tertulis: “Team Zehan.” dan “Team Biru.”

 

"Siapa yang nyuruh kalian pakai ini sih?" Aira menatap mereka tajam.

 

"Aku nyetak semalam. Biar fair," jawab Zehan.

 

“Gak boleh plagiat, bro. Ide kayak gini harusnya di drama Korea episode spesial, bukan di jalanan Tangerang Selatan.” gerutu Aira sambil menutup wajah dengan kipas kecil yang dibawanya.

 

*** 

  

Adegan 1: Makan Siang di Kafe Kekinian

 

Tujuan pertama mereka: Kafé Sejenak Senja. Tempat aesthetic penuh lampu tumblr dan gelas-gelas kaca yang gak praktis.

 

“Aku pesen strawberry latte kayak di drama Our Unwritten Seoul, walau aslinya Park Bo Young makan Strawberry bukan latte.” kata Aira.

 

“Aku pesen apa aja yang bisa bikin Aira senyum.” ucap Biru sambil mengedipkan mata.

 

“Waiter! Saya pesen apa aja yang lebih manis dari Biru!” saut Zehan cepat-cepat.

 

Waiternya cuma bisa bingung. Aira? Mau ngakak tapi dia tahan. Makanan datang. Tapi bukannya makan, Biru dan Zehan malah sibuk rebutan kursi di sebelah Aira.

 

“Eh gua duluan yang duduk!”

 

“Gak bisa! Lu udah duduk waktu di angkot!”

 

“Itu bukan hitungan resmi!”

 

“Lu pikir ini Piala Dunia?!”

 

Satu gelas latte tumpah. Untung bukan ke baju Aira. Tapi tumpah ke jaket Team Zehan, yang sekarang berubah jadi Team Basah. Aira udah mulai uring-uringan.

 

*** 

 

Adegan 2: Main di Taman

 

Mereka pindah ke taman. Rencana: bermain flying fox. Tapi kenyataannya Biru dan Zehan berebut helm pengaman.

 

“Gua yang pegang tangan Aira pas naik flying fox!”

 

“Eh enggak! Lu udah pegang dia tadi waktu naik tangga!”

 

“Kalau gitu gantian!”

 

“Gantian apa? Cinta tuh gak bisa digilir, bro!”

 

Aira diam-diam mulai menangis. Tapi ini bukan tangisan dramatis. Ini tangisan... absurd.

 

"Kenapa hidup aku... jadi begini..." ucap Aira. "Kayak... kayak naskah, yang... gagal sensor..."

 

Biru dan Zehan langsung panik.

 

“Aira, kamu nangis ya?” tanya Biru. "Eh maaf banget, sumpah aku cuma—"

 

Aira mengangkat tangan. Stop.“Ssshh... ini bagian monologku.” Kedua cowok itu langsung diam.

 

Aira berdiri, matanya masih berkaca-kaca. Ia melihat ke arah pohon, seolah ada kamera menyorotnya.

 

“Dulu, aku cuma cewek biasa. Penikmat drama Korea. Penyendiri. Pelari dari masa lalu.”

 

Zehan dan Biru saling lirik.

 

“Dulu, aku punya hidup yang... tragis. Nenek satu-satunya meninggal. Rumah penuh ejekan. Makan nasi seminggu dua kali, sisanya air galon campur garam.”

 

Zehan hampir nangis beneran.

 

“Tapi aku... tetap tegar, Senyum, walau hati babak belur. Dan sekarang... aku di sini. Di antara dua cowok... yang suka rebutan helm dan latte strawberry!”

 

Biru mengangkat tangan, “Tapi itu karena—”

 

“Ssst. Monolog, inget?” Aira langsung menyela.

 

“Oh, iya.”

 

Aira menatap mereka dengan mata merah dan suara berat seperti narator sinetron.

“Aku nulis skenario buat hidupku. Aku pengen jadi cewek drama Korea. Tapi kenyataannya... hidupku lebih mirip sitkom Tukang Rebutan Cewek Episode Minggu Pagi.”

 

Suasana menjadi sunyi. Lalu... Mereka bertiga tertawa. Tawa yang lepas. Bukan ngeledek, tapi tawa karena... ya, hidup memang sering kali aneh. Dan lucu. Apalagi kalau dijalani bareng orang yang bener-bener peduli.

 

 *** 

 

Bab 7: Galau, Anggur Merah, dan Anggina

 

Senin malam. Zehan duduk sendiri di warung kopi pinggir jalan. Jaketnya gak dipake, cuma disampir di bahu. Di depannya sebotol minuman soda rasa anggur... yang ia anggap anggur beneran.

 

“Gua kalah... kalah sama Biru.” gumam Zehan, minum soda dalam satu teguk.

 

Dari kejauhan, Anggina melihat Zehan duduk sendiri. Ia menghampiri pelan.

 

"Minum sendiri, Bang?" katanya sambil duduk di sebelah Zehan.

 

“Gue... patah hati,” ujar Zehan dramatis.

 

“Minumnya soda, terus bilang patah hati. Drama lo 40%” cibir Anggina.

 

“Tapi rasanya kayak mabok asli...”

 

“Mabok soda, mungkin.”

 

Zehan tertawa kecil.

 

“Lo tahu gak? Gua suka Aira... tapi Aira jelas lebih suka Biru.”

 

Anggina menatap Zehan lama. “Mungkin kamu salah liat.”

 

“Enggak. Dia selalu senyum kalau bareng Biru. Kalau sama gue... kayak guru BK ngasih motivasi.” Ucap Zehan sembari tertunduk. Anggina berpikir sejenak, lalu menepuk bahunya.

 

“Eh, tapi tenang aja. Cowok kayak lo gak akan sendirian lama.”

 

“Kenapa lo yakin?”

 

“Karena cewek di sebelah lo sekarang... juga suka cowok yang bisa bikin dia ketawa. Dan lo, Zehan... lo lucu banget.”

 

Zehan menoleh pelan. “Lo... suka gua?”

 

“Enggak, gua lagi pura-pura jadi Aira.” jawab Anggina sambil menahan tawa.

 

Mereka tertawa bareng. Tapi ada sesuatu di mata mereka berdua... yang mulai berubah.

 

***

  

Bab 8: Cinta, Buku, dan Kepala Botak

 

Sudah dua minggu sejak Aira dan Biru resmi jadian — kalau bisa dibilang resmi, karena prosesi nembaknya aja... absurd banget.

 

“Jadi kamu... mau jadi cewek aku?”

 

“Bentar, itu nembak apa ngajak ngelamar cicilan?”

 

Tapi Aira, dengan pipi merah kayak buah naga, mengangguk. Dan Biru? Langsung salto kecil di tempat (meski hampir keseleo).

 

Hari ini mereka duduk berdampingan di kelas Matematika. Bukan karena aturan duduk, tapi karena Biru nyogok Zehan pakai cilok biar bisa duduk sebelah Aira. Sialnya, ini adalah pelajaran Matematika Bu Sari — guru paling galak sedunia maya. Rambutnya pendek, ekspresinya kayak kalkulator rusak, dan cara jalannya kayak penghapus papan tulis: cepat, datar, dan tak bisa dihentikan.

 

"TSABIT DAN PURNAMA!" teriak Bu Sari dari ujung kelas.

 

Semua langsung diam. Jantung Aira dan Biru kayak alarm ujian dadakan.

 

"Ibu gak buta. Ibu liat dari tadi kalian saling lirik-lirikan! Kalian pikir ibu ini CCTV rusak?!"

"Bukan gitu Bu, saya cuma—"

 

"Ngitung volume tatapan cinta?! Keluar! Bawa dua buku paling tebal, tahan di kepala di balkon lantai dua! Sekarang!"

 

Aira dan Biru pun berjalan tertunduk seperti dua napi cinta yang divonis hukuman berat tapi absurd.

 

“Ini buku apaan sih, berat banget.” keluh Biru, keringatnya netes kayak lagi lomba lari.

 

“Ini kamus Matematika, Bir. Tebalnya bisa buat ganjel pintu rumah.” jawab Aira dengan nada sebal tapi geli.

 

Mereka berdiri berdampingan, buku masing-masing di atas kepala. Tapi tentu saja... ini Biru.

 

“Aira.” bisik Biru.

 

“Jangan ngomong, ntar ditambah hukumannya!”

 

“Aku cuma mau bilang... rambut kamu wangi kayak... kalkulator baru.”

 

“Kalkulator gak punya bau, Bir.”

 

“Ya pokoknya... pokoknya aku jatuh cinta sama kamu lebih dari gravitasi bisa narik apel!”

 

Aira mencoba tahan tawa, tapi bahunya udah goyang-goyang. Sialnya... bukunya jatuh. Satu buku tebal jatuh dari kepala Biru dan meluncur bebas melewati pembatas balkon.

 

“KEDUBRAKK!”

 

Terdengar suara dentuman seperti suara harapan siswa saat ujian dadakan. Mereka terdiam. Aira ngintip ke bawah. Matanya melebar. Di bawah sana berdiri Pak Gatot — kepala sekolah botak yang terkenal sekeras granit. Dan di atas kepala botaknya, ada... buku Matematika yang sekarang resmi jadi senjata pemusnah rambut permanen.

 

Pak Gatot menatap ke atas. Aira dan Biru membeku. Suara Pak Gatot membahana:

 

"SIAPA YANG NGELEMPAR BUKU INI KE KEPALA SAYA?!"

 

Mereka akhirnya diseret (secara verbal) oleh Pak Gatot ke ruang guru, lalu diberi sanksi atas perbuatan mereka.

 

“Bersihkan lapangan sekolah dari semua sampah sampai jam makan siang. Tidak boleh kabur. Tidak boleh bercanda. Dan tidak boleh jatuhin kepala saya lagi.”

 

 ***

 

Bab 9: Sampah, Cinta, dan Kesialan Berantai

 

 

Aira memegang kantong sampah, Biru bawa penjepit lidi.

 

"Ini semua salah kamu!" kata Aira sambil menunjuk-nunjuk.

 

"Tapi kamu ketawa tadi pas aku bilang kamu bau kalkulator!"

 

"Itu bukan alasan ngejatuhin buku ke kepala kepsek!"

 

Di tengah kekesalan itu, Aira menemukan sandal jepit bekas dan sepotong tahu bulat gosong.

 

“Ini siapa sih makan tahu bulat terus buang di lapangan?” gerutu Aira.

 

Biru tiba-tiba mendekat dan pelan-pelan menyelipkan tahu bulat ke tong sampah sambil berkata.

 

“Seperti kisah cinta kita... tahu ini pernah panas, lalu dingin... tapi akhirnya menemukan tempat terbaik untuk beristirahat.”

 

“Aku pengen buang kamu sekalian.” Balas Aira.

 

Tapi mereka tertawa. Bahkan sambil bersihin sampah pun, momen absurd mereka tetap... lucu dan hangat.

 

Mereka kembali dengan seragam setengah basah, tangan kotor, dan rambut lepek.

 

“Wah, romantis banget sih kalian! Jalan-jalan sambil angkut plastik!” celetuk Zehan.

 

Bimbim dari belakang nambahin.

 

“Eh gua liat tadi! Biru ngutip tahu bulat terus ngomong sok puitis!”

 

“Mana tadi gua ngira tuh tahu bantal...” lanjut Bimbim.

 

Semua tertawa.

 

 ***

 

Bab 10: Puisi, Rasa, & Queen of Tears yang Tertunda

 

Malam itu kamar Anggina remang dengan lampu belajar yang redup. Di pojok tempat tidur, Aira duduk bersila sambil mengetik di laptopnya dengan ekspresi penuh inspirasi.

 

“Aku harus bikin puisi. Puisi cinta. Puisi yang bikin Biru jatuh cinta lagi tiap baca.” gumam Aira sambil mengetik cepat.

 

Anggina yang sedang menata tas untuk sekolah besok cuma mengangguk lelah.

 

“Puisi lagi? Udah berapa puluh halaman isi diary kamu?”

 

“Bukan puisi biasa. Ini puisi... gombal literer.”

  

Puisi Aira:

 

Untukmu, Biru Satya Purnama

 

Cintaku padamu seperti Biologi,

Sulit dimengerti tapi menyatu alami.

 

Seperti mitosis membelah cinta,

Hatiku terbagi, semua buat kamu saja.

 

Jika kamu adalah tanaman,

Maka kamu pasti... pohon salak—karena keras di luar tapi manis di dalam.

 

Bila kamu jadi virus,

Aku rela tertular selamanya, tanpa vaksin cinta.

 

Dan andai kamu seekor katak,

Aku tetap mau cium kamu walau harus disuntik tetanus.

 

“Cium katak?!” jerit Anggina yang gak sengaja baca puisi itu dari belakang Aira, sebelum buku diary Aira tergelincir dari meja dan jatuh ke lantai.

 

Aira panik, “JANGAN BACA! ITU KARYA SASTRA SAKRAL!”

 

Anggina udah terlanjur ngakak sampe guling-guling di kasur.

 

“Pohon salak? Virus cinta? Tetanus?! Ini puisi atau brosur imunisasi?”

 

Aira lempar bantal ke Anggina.

 

“Sastra eksperimental itu! Gak semua orang ngerti!”

 

Setelah gelak tawa mereda, Anggina tiba-tiba berkata.

“Eh, ngomong-ngomong soal cinta... tadi siang aku lihat Zehan di warung dekat sekolah.”

 

“Terus?” tanya Aira sambil ngetik lagi.

 

“Dia... duduk sendirian, makan mi instan tanpa kuah. Terus sambil dengerin lagu galau dari HP-nya.”

 

Aira berhenti ngetik.

 

“MI INSTAN TANPA KUAH? Itu... sedih banget sih.”

 

“Aku nanya dia kenapa, dia bilang; aku cuma pengen makan sesuatu yang sama kayak hatiku—kering, hambar, dan gak ada yang peduli.”

 

Aira terdiam dua detik. Lalu...

 

“BAHAHAHAHAHAHA!”

 

“Ya ampun Aira!” Anggina ikut ketawa walau wajahnya setengah kasihan.

 

“Dia ngunyah mie kayak ngunyah kenangan!”

 

“Tapi kasihan juga sih.” kata Aira sambil nyeka air matanya yang keluar karena ketawa.

 

“Tapi aku liat kamu deh, kayak ada yang disembunyiin.” Lanjut Aira.

 

Anggina mendadak tegang.

 

“Hah? Apaan?”

 

Aira menyipitkan mata.

 

“Ngaku deh, Anggina Sri Raharja... kayaknya kamu lagi berbunga-bunga ya... kenapa tuh?”

 

“Enggak ah!” jawab Anggina cepat, pipinya langsung merah kayak cabe rawit di kantin.

 

“Eeeh... curiga nih! Jangan-jangan... Zehan ya?”

 

Anggina langsung berdiri, dan

 

“TREK!” Menutup laptop Aira dengan dramatis.

 

“Eh eh eh! Itu belum selesai! Masih episode terakhir Queen Of Tears!” teriak Aira panik.

 

“Terserah, yang penting sekarang belajar! Besok ada ulangan Biologi dari Pak Subroto!”

 

“Ulangan? Yang bener?”

 

“Iya! Lo mau jadiin diri lo bahan lawakan Pak Subroto yang garing? Aira, kamu lebih kering dari sel tumbuhan yang kehilangan vakuola! gitu nanti katanya!”

 

Aira pasrah. “Ya udah deh...” Ia mulai buka buku Biologi dengan lesu, wajahnya kayak baru kehilangan pangeran kerajaan fiksi. Anggina sudah meringkuk di tempat tidur, selimut sampai hidung.

 

“Gua udah selesai PR. Jadi, good luck ya, Aira si puitis katak.”

 

“Diam, Sri Raharja!” oceh Aira sambil baca bagian organ tumbuhan. “Kenapa sih semua kisah cinta ku jadi kayak anatomi kacau...”

 

Esok harinya… kisah mulai memasuki babak baru. Tapi malam itu, satu hal tersirat dengan manis; Anggina mungkin mulai jatuh cinta. Dan Aira, meski kekanak-kanakan, diam-diam mengerti.

 

*** 

  

Bab 11: Saat Langit dan Hati Sama-sama Gelap

 

Hari itu, Aira datang ke sekolah dengan semangat yang nyaris meluap. Di tasnya, ia membawa bekal special; ayam kecap, sambel terasi buatan Anggina, dan telur dadar yang bentuknya agak jelek karena ia sendiri yang masak.

 

"Buat Biru." gumamnya sambil senyum-senyum sendiri. "Biar tambah sayang."

 

Di kelas, Pak Subroto mengawali pelajaran Biologi dengan ekspresi serius. Ulangan. Tidak ada lelucon hari itu—kecuali ketika Aira dan Biru tiba-tiba minta izin bareng ke toilet.

 

Pak Subroto sempat angkat alis dan berkata,

 

“Dua orang minta ke toilet bersamaan? Jangan-jangan mau bikin eksperimen ‘hormon’ sendiri ya?”

 

Seluruh kelas tertawa meski terpaksa karena lelucon garing pak Subroto.

 

Aira pura-pura gak dengar. Dia hanya ingin tahu: kenapa Biru hari ini pendiam banget? Biasanya dia yang paling cerewet minta contekan waktu ulangan.

 

Setelah keluar kelas, Aira mempercepat langkah. Tapi alih-alih ke toilet, Biru justru berbelok ke arah taman belakang sekolah. Aira mengendap-endap di balik semak. Matanya menyipit saat melihat seorang cewek dari kelas lain berdiri dekat banget dengan Biru. Cewek itu ketawa-ketawa dan tiba-tiba… memeluk Biru dari samping. Aira terpaku. Detik itu juga, hatinya seperti dilempar ke tong sampah dan diinjak-injak pakai sepatu boot.

 

Hujan deras turun seolah alam mendukung kesedihannya. Seolah episode ini memang ditulis Tuhan untuk menghancurkan imajinasinya tentang cinta. Ia menangis dalam hujan—tapi sempat tergelincir karena lantai taman licin. Bokongnya nyut-nyutan, tapi hatinya lebih nyut-nyutan lagi. Ia bangkit, lari, dan masuk ke kelas seperti zombie yang habis nonton 100 episode drama sedih nonstop.

 

Pak Subroto nyaris membuka mulutnya untuk melontarkan guyonan… tapi kemudian batal.

 

"Oh. Ehem. Duduk aja, Tsabit. Nanti flu."

 

Tapi kemudian suara ribut-ribut dari arah taman terdengar. Seluruh siswa heboh ke luar kelas. Anggina berusaha tenangin Aira di dalam. Tapi Aira hanya menangis di bahunya, dan itu bukan tangisan yang biasanya bisa diselingi canda.

 

“Aku tuh cuma pengen... satu kisah yang berakhir indah. Tapi selalu hancur...”

 

Zehan yang juga basah kuyup tiba-tiba muncul di depan kelas, teriak panik.

 

“RA! GAWAT! BIRU BERANTEM!!!”

 

Aira langsung berdiri. Air mata dihapus pakai lengan. Ia lari keluar kelas dan menyusul kerumunan.

 

Di lapangan, Biru dan Pratama—siswa kelas 12 yang dikenal keras kepala—berantem hebat.

 

“LU NGGAK USAH DEKET-DEKET UNGU LAGI!”

 

“GUE GAK ADA NIAT APA-APA! DIA YANG MELUK GUE!”

 

Guru BK sampai turun tangan melerai. Kepala sekolah muncul dengan wajah petir. Semua siswa berserakan. Neizya, teman Aira dari kelas B, berbisik.

 

“Kayaknya Biru digebukin karena pacarnya Pratama—si Ungu—peluk Biru duluan. Tapi ya gitu, jadinya salah paham, hancur semua.”

 

 ***

  

Bab 12: Dan Setelah Hujan, Ada Keheningan

 

Keesokan harinya, suasana kelas aneh. Biru gak datang. Aira berharap dia akan menjelaskan. Tapi gak ada kabar. Chat tidak dibalas dan cuma centang satu. Anggina duduk di sebelahnya sambil nahan tawa campur iba.

 

“Eh, lo galau banget sampe Pak Subroto kemarin gak berani ngelawak garing. Ajaib sih.” Ucap Anggina yang kemudian pergi meninggalkan Aira, mengira Aira butuh waktu untuk sendiri.

 

Aira hanya tersenyum pahit. Tapi kemudian, Anggina kembali datang terburu-buru dari ruang OSIS.

 

“Ra... gue dapet info dari kakak kelas. Biru… dikeluarin dari sekolah.”

 

Aira membeku.

 

“Katanya... dia udah pernah buat masalah juga di sekolah sebelumnya. Orang tuanya lagi di ruang BK sekarang.” Tanpa pikir panjang, Aira lari.

 

Ia sampai di koridor depan ruang BK. Tapi sudah terlambat. Dari kejauhan, ia melihat Biru berjalan menuju gerbang sekolah bersama orang tuanya. Biru menoleh, pandangan mereka bertemu…Tapi hanya sesaat.

 

Tidak ada kata-kata. Tidak ada pelukan. Tidak ada skenario romantis. Hanya satu tatapan… dan satu kenyataan: Ia pergi. Dan meninggalkan Aira sekali lagi—tanpa penjelasan.

 

 ***

 

Bab 13: Hati yang Terkubur, dan Harapan yang Patah

 

Setelah kejadian itu, Aira berubah. Gadis yang suka tertawa keras, nyanyi di toilet, dan curhat tentang drama Korea tiap hari… hilang. Ia sekarang duduk di pojok kelas. Fokus belajar. Tidak tertawa bahkan ketika Pak Subroto bikin lelucon soal katak kawin silang dengan kangguru.

 

“Gak bisa, Pak. Kagak ada di silabus.” Responnya malah kelewat serius membuat seisi kelas sunyi. Tidak ada yang tertawa. Kelas lebih dingin dari freezer Alfamart.

 

Aira lulus sebagai siswa terbaik. Tapi bukan karena ia ingin jadi teladan. Tapi karena… ia gak punya apa-apa lagi untuk diperjuangkan.

  

 *** 

  

Bab 14: Salju, Buku, dan Awal yang Baru

 

Langit musim dingin Amerika memutih seperti halaman kosong buku harian Aira yang belum tersentuh. Salju turun perlahan, menyelimuti jalan-jalan kampus yang megah. Aira Tsabit, gadis yang dulu penuh luka, kini berdiri anggun dengan mantel biru tua dan syal merah marun, memeluk buku-buku sastra klasik.

 

"Lagi-lagi aku nangis baca Wuthering Heights." katanya pada Caroline, sahabat sekaligus partner study group-nya di jurusan Sastra.

 

"Kenapa sih cinta segitu nyeseknya?"

 

Caroline tertawa.

 

"You tell me! But I think you just love tragic love stories too much."

 

Aira hanya tersenyum, menatap langit. Dalam hati, ia tahu—ia tidak lagi percaya pada akhir cerita yang bahagia. Bagi Aira, cinta itu seperti ending drama Korea yang di-cut pas mereka lagi ketawa, dan gak pernah diperlihatkan apakah mereka beneran bahagia atau nggak setelahnya.

 

Setelah study group selesai, Aira melangkah pelan ke taman kampus, tempat favoritnya untuk merenung sambil makan biskuit coklat kesukaannya—yang anehnya selalu ngingetin dia sama Zehan.

 

"3 tahun berlalu dengan cepat,ya.." Seraya mengingat kenangan lama sesekali tersenyum geli mengingat candaan-candaa masa masa SMA.

 

Saat ia membuka buku catatannya, angin berhembus cukup kencang hingga beberapa lembar puisinya terbang. Aira panik, mengejar kertas-kertas itu, lalu...

 

“BRUK!”

 

Buku tebal yang ia peluk jatuh menimpa kaki seseorang.

 

"Aduh! Maaf! Maaf banget!" kata Aira buru-buru jongkok, tanpa melihat wajah orang itu.

 

"Eh, gak apa-apa kok. Tapi buku kamu berat juga ya. Ini buku atau alat fitness?"

 

Suaranya...Suara itu...Suara itu bukan suara cowok bule yang biasanya minta contekan. Suara itu... Aira menoleh perlahan, dan jantungnya langsung kayak dilempar ke jurang jurit malam.

 

"... BIRU?"

 

Cowok di hadapannya tersenyum, rambutnya sedikit lebih panjang dari terakhir Aira lihat. Ia memakai coat hitam dan scarf abu-abu, matanya masih seperti dulu—penuh rahasia tapi hangat.

 

"Hey... lama gak ketemu, Aira."

 

Aira berdiri kaku. "K-kamu... ngapain di sini?"

 

"Beasiswa. Aku pindah ke sini dua minggu lalu. Tapi belum sempet cari kamu. Eh, malah dipertemukan secara dramatis gini."

 

Biru menunjuk ke arah salju yang turun dan buku yang masih berserakan.

 

"Persis drama Korea banget ya?"

 

Aira tidak menjawab. Hatinya menjerit campur aduk. Antara mau melempar salju ke muka Biru... atau peluk dia sambil nangis kejer. Tapi akhirnya, ia hanya berkata pelan,

 

"Aku kira kamu hilang."

 

Biru menatap matanya dalam-dalam.

 

"Maaf. Aku harus pergi waktu itu... dan aku gak cukup berani buat berpamitan langsung."

 

"Tapi kamu tahu nggak? Waktu itu, dunia aku udah nyaris sembuh. Tapi kamu pergi, dan semua sakitnya balik lagi. Dan sekarang... sekarang kamu tiba-tiba muncul kayak tokoh utama drama pas episode terakhir."

 

Biru tertawa kecil.

 

"Kamu masih sama. Suka dramatis."

 

Aira mendelik.

 

"Aku mahasiswa Sastra sekarang. Dramatis itu bagian dari identitas."

 

Biru mengangguk.

 

"Boleh gak... kalau kita mulai lagi dari awal? Tanpa surat cinta yang nyasar. Tanpa nasi uduk Bimbim. Tanpa Pak Subroto dan lawakan garingnya."

 

Aira menatapnya lama. Lalu ia menghela napas panjang.

 

"Kalau kamu bisa tahan sama aku yang sekarang... yang udah gak percaya cinta kayak drama Korea lagi, ya... mungkin kita bisa mulai dari satu hal kecil."

 

"Apa?"

 

"...Temenin aku ke perpustakaan. Aku belum balikin buku."

 

Biru tersenyum lebar. "Deal."

 

*** 

 

Epilog: Kabar dari Indonesia

 

Di Indonesia, Anggina Sri Raharja sedang membuka surat dari Aira yang dikirim lewat pos.

 

Anggina... Kamu benar.

 

Kadang, cinta datang bukan dengan kembang api dan payung yang basah.

 

Kadang, cinta datang lewat satu buku yang jatuh. Dan aku masih percaya... setiap orang bisa dapat satu season kebahagiaannya.

 

Oh, dan Zehan kabarnya apply ke kuliah yang sama dengan kamu ya? Kalian cocok loh. Jangan pura-pura nggak naksir ya, Sri Raharja.

 

Love you always, Aira.

 

Anggina membaca sambil senyum-senyum, lalu menatap ke luar jendela, di mana Zehan sedang menjemur jaket yang basah kena hujan karena lupa bawa jas hujan tadi siang.

 

"Dasar galauin orang sambil mabok indomie." Ucap Anggina.

 

Tidak lupa Aira juga mengirimkan sebuah puisi kepada Anggina. Sebuah puisi yang ditujukan untuk Biru, seseorang yang berhasil Aira temui lagi.

 

Langit Biru di Amerika

oleh Aira Tsabit

 

Langit biru di atas sana

Tak lagi hanya warna

Tapi kenangan yang dulu patah

Kini perlahan pulih bersama

 

Dulu aku menatap langit sendirian

Menggenggam mimpi yang sering kandas

Menyulam puisi dari hujan dan kehilangan

Menanti jawaban dari takdir yang malas

 

Tapi hari itu—

Di taman bersalju

Dengan buku yang jatuh seperti adegan drama

Aku menemukan kamu

 

Biru

Kau tak sekadar nama

Tapi perhentian setelah luka

Pelukan hangat di negeri yang jauh dari rumah

Kita tertawa bukan karena sempurna

Tapi karena tahu; pernah jatuh, pernah ditinggal,

Namun tetap memilih saling tinggal.

 

Langit biru di Amerika

Tak sekadar langit

Tapi rumah baru bagi kisah lama

Yang akhirnya tahu;

Tak semua perpisahan berarti selesai

Kadang... itu hanya jeda sebelum kembali.

Komentar

Sempurna

Komentari Tulisan Ini
Tulisan Lainnya
PENTINGNYA MENJAGA KESEHATAN BAGI REMAJA

Semua orang pasti ingin selalu hidup sehat dan terhindar dari penyakit. Sebab, dengan tubuh dan pikiran yang selalu sehat, seseorang dapat beraktivitas secara optimal. Termasuk juga den

04/04/2026 18:29 - Oleh Administrator - Dilihat 991 kali
BERANI PAKAI MAKE UP KE SEKOLAH? BACA INI DULU!

Fenomena memakai make up di kalangan pelajar saat ini sudah menjadi hal yang biasa. Di sekolah aku sendiri, banyak siswa yang membawa make up. Menurut aku, pakai make up bukan hal yang

04/04/2026 18:28 - Oleh Administrator - Dilihat 3179 kali
RANCANG CITA CITA, GAPAI MASA DEPAN

Setiap orang pasti memiliki impian atau cita-cita. Ada yang ingin menjadi dokter, guru polisi, konten kreator, hingga presiden. Namun, sering kali banyak orang yang bingung atau bahkan

04/04/2026 18:26 - Oleh Administrator - Dilihat 1437 kali
STOP BERGADANG, JIKA TIDAK INGIN MENJADI SEPERTI BUAH YANG DI MAKAN ULAT.

Di zaman sekarang, banyak sekali remaja-remaja yang sering lupa waktu pada jam istirahat, terutama pada malam hari, remaja-remaja sekarang banyak sekali melakukan aktivitas bergadang de

04/04/2026 18:25 - Oleh Administrator - Dilihat 368 kali
TIPS BELAJAR CEPAT SETELAH SELESAI LIBURAN

Belajar cepat dapat dicapai dengan membangun kembali rutinitas harian, dan merapikan lingkungan belajar. Berikut tips-tipsnya:   Bangun kembali rutinitas harian: Kembalikan

31/03/2026 18:23 - Oleh Administrator - Dilihat 400 kali
MOMEN LEBARAN: KEBERSAMAAN YANG MENYENTUHKAN HATI

Lebaran atau idulfitri adalah momen yang selalu dinanti-nantikan oleh sebagian besar masyarkat Indonesia. Seteleh sebulan penuh menjalani ibadah puasa Ramadhan dengan penuh kesabaran da

31/03/2026 18:08 - Oleh Administrator - Dilihat 284 kali
HARI PERTAMA KEMBALI KE SEKOLAH: ANTARA SEMANGAT DAN RINDU YANG TERTUNDA

Setelah melewati masa libur yang terasa begitu cepat, hari pertama masuk sekolah kembali datang. Pagi itu terasa berbeda. Alarm yang biasanya dimatikan, kini benar-benar harus ditaati.

31/03/2026 17:42 - Oleh Administrator - Dilihat 476 kali
HARMONI HIJAU DAN SEMBURAT MENTARI SORE

Menangkap keindahan cakrawala di sore hari telah menjadi kegemaran tersendiri bagi kalangan remaja saat ini. Bukan sekadar mengikuti tren, namun perpaduan warna langit yang hangat ser

28/03/2026 19:20 - Oleh Administrator - Dilihat 410 kali
HAMPARAN SAWAH SEBAGAI SUMBER KEHIDUPAN

Hamparan sawah hijau terlihat membentang luas dengan jalan setapak yang membelah di tengahnya. Pemandangan ini menunjukkan aktivitas pertanian yang masih berjalan dan menjadi bagian p

28/03/2026 19:18 - Oleh Administrator - Dilihat 779 kali
LANGIT SENJA: PESONA ALAM YANG MENGINSPIRASI HATI DAN PIKIRAN

Saat matahari mulai merunduk ke balik ufuk barat, langit berubah menjadi kanvas alam yang tak ternilai harganya. Warna-warni yang melintas di langit senja bukan hanya pemandangan inda

28/03/2026 19:16 - Oleh Administrator - Dilihat 1504 kali